SILSILAH KERAJAAN MATARAM ISLAM
 

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:"Dutch766 BT"; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Body Text Indent Char"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.05in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Dutch766 BT","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.BodyTextIndentChar {mso-style-name:"Body Text Indent Char"; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:"Body Text Indent"; font-family:"Dutch766 BT","serif"; mso-ascii-font-family:"Dutch766 BT"; mso-hansi-font-family:"Dutch766 BT";} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:8.5in 13.0in; margin:1.0in 1.1in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:"Dutch766 BT"; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent {mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Body Text Indent Char"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.05in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Dutch766 BT","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.BodyTextIndentChar {mso-style-name:"Body Text Indent Char"; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:"Body Text Indent"; font-family:"Dutch766 BT","serif"; mso-ascii-font-family:"Dutch766 BT"; mso-hansi-font-family:"Dutch766 BT";} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:8.5in 13.0in; margin:1.0in 1.1in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

SILSILAH  KERAJAAN MATARAM

 

Kronologi:

·1584 berdiri, Pendiri R. Danang Sutawijaya, kemudian bergelar P. Senapati Ingalaga.

 (Prabu Brawijaya V, raja Majapahit  →  R. Bundan Kejawen → R. Getas Pandawa → Kyai Ageng Selo Abdulrahman  → Ki Ageng Anis Lawiyan Solo → Ki Ageng Pemanahan → Panembahan Senopati)  

Ibu kota : Kota Gede

·1587 menaklukkan Pajang

·1596 VOC mendarat di Banten

·1617 Sultan Agung memindahkan ibukota kerajaan ke Kerta (tidak berlangsung lama)

·1628-1629 Sultan Agung menyerbu pasukan VOC di Batavia.

·Wilayah Mataram meliputi : Tegal, Yogyakarta, Kedu, Madiun,Pati, Salatiga, Surabaya, dan Madura.

·1630 Sultan Agung mulai membangun komplek makam untuk keturunannya di bukit Imogiri.

·1648 Amangkurat I memindahkan ibukota ke Plered.

·1677 Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura

·1742 Kartasura diduduki Mas Garendi (saudara Sunan PB II) dalam perang Pacinan

·1745-46 Sunan Paku Buwana II memindahkan ibukota ke Surakarta

·11 desember 1749: P. Mangkubumi dinobatkan sebagai Sunan Paku Buwana di Yogyakarta oleh pengikutnya

·1755 Perjanjian Giyanti membagi kerajaan Mataram menjadi dua : Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.

·1757 Surakarta Hadiningrat terpecah menjadi dua : Surakarta Hadiningrat dan Mangkunegaran.

· wilayah Kasultanan Ngayogyakarta :Kedu, Magetan, Caruban, separo Pacitan, Kediri, Surabaya, Mojokerto, Rembang, Bojonegoro (Jipang), Ngawen, Selo, Warung, Grobogan, Kalangberet, Kertosono, Madiun

· wilayah Kasunanan Surakarta : Kedoewang, Jagaraga, Nganjuk, Ponorogo, Blitar, Banyumas, Wirosobo, Blora, separo Pacitan, Lodaya, Srenggut

·1811-1816 kekuasaan Belanda di Nusantara diserahkan kepada pemerintah Inggris

·1812-13 P. Natakusumo (adik Sultan Hamengku Buwana II) bertahta di wilayah sebelah timur               S. Code dan bergelar Sri Paku Alam I

·1825-1830 perang Diponegara

· 5 September 1945 Ngayogyakarta dan Pakualaman bersatu ke dalam wilayah RI.

 

 

   

 

 

PENDAHULUAN

 

Jawa dapat dikatakan merupakan sentral bagi nusantara dan menjadi cikal bakal terbentuknya pemerintahan modern untuk menyatukan berbagai peradaban di Indonesia ini. Dirunut dari zaman prasejarah berupa penemuan situs manusia Pithecantropus Erectus di Sangiran Jawa Tengah, kemudian menginjak masa Klasik dengan peradaban Hindu Budha hingga babak baru berupa penyebaran Islam, bahkan dilanjut dengan era kolonialisasi, menunjukkan bahwa Jawa merupakan salah satu pusat mata rantai peradaban Indonesia. Upaya untuk menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara dibawah payung Jawa telah dimulai oleh raja Kertanegara (Singasari, 1268-1292). Sang raja telah memperkuat militernya  hingga mempunyai armada  laut tangguh. Kekuatannya pernah menghadapi armada Portugis di Selat Malaka yang ingin menguasai Nusantara yang dikenal dengan ekspedisi PAMALAYU. Meski akhirnya Singasari runtuh, keberlangsungan cita-citanya diwujudkan oleh keturunannya yang mendirikan MAJAPAHIT. Kerajaan ini sangat luas pengaruhnya hingga Champa (sekitar Vietnam-Thailand), dan benar-benar menyatukan Nusantara di bawah payungnya. Sang raja, Hayam Wuruk (1350-1389) digambarkan sebagai penganut Budha dan Siwa

Data tentang kebesarannya dapat dirunut dari karya sastra Negarakrtagama karya Prapanca.

Kebesaran Majapahit mulai surud sepeninggal Hayam Wuruk, dikarenakan intrik keluarga hal tahta. Hingga menyebabkan para daerah vasal melepaskan diri. Kondisi ini berlangsung hingga satu abad. Kemudian kebudayaan baru menancap, yaitu Islamisasi.

Penyebaran agama Islam di pesisir utara Jawa memunculkan kekuatan baru. Di Demak, salah satu putra Raja Brawijaya Majapahit bernama Raden Patah berhasil mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa. Beliau bergelar Sultan Syah Alam Akbar I (1478-1513).

Eksistensi Demak memang tidak berlangsung lama. Sepeninggal Sultan Trenggana, (raja ketiga 1521-1546) kerajaan mengalami perang saudara. Sultan Prawata sebagai pemegang tampuk pemerintahan selanjutnya ( 1546-1561) digoncang oleh Arya Penangsang, adipati Jipang (sepupunya) yang membalas dendam atas kematian ayahnya, P. Seda Lepen. Sang ayah ini tewas dibunuh oleh Sultan Prawata. Pada akhirnya  sang raja pun menemui nasib sama, wafat di tangan Arya Penangsang.

Demak kemudian diperintah oleh menantu Sultan Trenggana, Sultan Hadiwijaya (1561-1584). Beliau  memindahkan tahta kerajaan ke pedalaman, yaitu daerah Pajang (selatan Salatiga). Kerajaan Pajang mempunyai panglima perang atau senopati yang mumpuni, Danang Sutawijaya. Ia merupakan putra Ki Ageng Pemanahan yang memimpin sebuah daerah otonom bernama MATARAM di selatan Pajang.

 

 

BERDIRINYA MATARAM

 

Sultan Hadiwijaya sebagai raja bijaksana, tidak pernah melupakan jasa-jasa rakyatnya terhadap negara. Ketika terjadi huru-hara yang dipimpin Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan menyuruh putranya, Danang Sutawijaya untuk berperang melawan Arya Penangsang dengan menggunakan tombak sakti, Kyai Plered. Perang tanding berhasil dimenangkan Danang Sutawijaya. Oleh sebab itu, sultan memberi hadiah tanah hutan Mentaok di daerah Kuta Gede kepada Ki Ageng Pemanahan. Tanah tersebut kemudian dibuka menjadi pemukiman dan bernama Mataram. Sedangkan Danang Sutawijaya diangkat sebagai putra oleh Sultan Pajang dan diberi jabatan sebagai senopati, kepala para prajurit Kerajaan Pajang. Ia bermukim di utara pasar Kuta Gede, hingga mendapat nama Ngabehi Loring Pasar (lor = utara, bhs Jawa). Pasar Kuta Gede sendiri sudah berdiri sejak kerajaan Demak.

Danang Sutawijaya merupakan pribadi cerdas dan berwibawa. Kemampuannya mengatur strategi militer dan pemerintahan telah mengubah Mataram sepeninggal ayahnya,  yang semula pemukiman biasa menjadi sebuah perdikan (daerah swapraja) yang besar. Penduduk dari berbagai daerah mulai bermukim di Mataram. Daerah ini berkembang pesat dengan ketersediaan berbagai keahlian, mulai tukang pande, tukang kayu, tukang perhiasan, pedagang, pertanian dan perkebunan (dalam skala rumah tangga) hingga menjelma menjadi negara kecil.

Lambat laun, Danang Sutawijaya membangun tembok keliling (baluwerti) yang ditengarai sebagai tindakan menyaingi Pajang. Bahkan dalam beberapa kali acara pisowanan (menghadap raja), sang putra angkat ini tidak hadir di kraton Pajang. Sultan Hadiwijaya akhirnya mengirim pasukan, bahkan beliau sendiri memimpin ke Mataram. Di Prambanan, sultan dan pasukannya kalah oleh Danang Sutawijaya. Inilah periode beralihnya tahta Pajang ke Danang Sutawijaya di Mataram.

 

Periode awal pemerintahan MATARAM

 

Danang Sutawijaya bertahta di Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga (1584-1601). Beliau mempunyai banyak nama dikaitkan dengan keberadaan tanah Mataram. Mataram berarti tanah yang harum (Ngeksiganda = bhs Jawa). Oleh sebab itu Danang Sutawijaya sering dipanggil dengan sebutan “wong agung Ngeksiganda”,  selain dipanggil dengan nama “Ngabehi Loring Pasar”.

          Perluasan kerajaan Mataram dimulai Senopati dengan menguasai Demak, Pati, kota-kota Jawa Timur, namun belum mampu menundukkan Surabaya. Politiknya yang terkenal adalah buatlah orang-orang menjadi gentar. Untuk melegitimasikan kekuasaannya, beliau gencar melakukan meditasi di pantai selatan dan berhasil meyakinkan rakyatnya bahwa penguasa laut selatan tunduk padanya.

Legitimasi ini merupakan modal spiritual yang bertahan hingga kini, bahwa raja-raja Mataram keturunannya akan selalu “didampingi” oleh sang ratu selatan (Gusti Kanjeng Ratu Kidul). Pada masa inilah tercipta legenda Ratu Kidul, dengan busana kesukaan berupa kain motif parang dan gadung mlati (warna hijau). Karya raja pertama Mataram ini yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang, yaitu Makam Kota Gede dan Masjid Kota Gede (1589)

Sepeninggal Senopati, tahta diteruskan oleh putranya, Sultan Anyakrawati atau lebih dikenal dengan Panembahan Seda Ing Krapyak (1601-1613). Raja inilah yang meletakkan dasar  kemegahan dan kemewahan yang pantas bagi sebuah dinasti raja-raja. Beliau merupakan patron sastra, memerintahkan penulisan babad Demak. Di masa pemerintahannya inilah, era dinasti mulai berbudaya. Klaim atas keabsahan sebuah dinasti menjadi lebih bisa dipercaya karena untuk menjadi raja yang berhasil, orang harus berperilaku sebagaimana perilaku seorang raja.

Beliau merupakan raja pertama yang mulai mengadakan kontak dengan utusan Eropa (VOC). Raja ini telah memperbaharui masterplan istana dengan membangun banyak taman dan kolam buatan. Konsep taman dan kolam ini agaknya mengacu pada masa pemerintahan raja-raja Hindu-Budha, seperti raja Airlangga yang membangun petirtaan di Belahan ataupun Jalatunda. Peninggalannya dapat diketahui dari toponim nama-nama desa yang masih ada hingga saat ini di sekitar Kuta Gede yang mengacu pada kolam/taman, seperti desa Tamanan maupun Danalaya.

Raja ini wafat ketika dalam perburuan di Krapyak Magelang. Krapyak adalah nama untuk sebuah hutan khusus perburuan bagi para kerabat kerajaan.

 

KEGEMILANGAN MATARAM

 

Panembahan Seda Ing Krapyak mempunyai 2 putra dari 2 permaisurinya sebagai kandidat raja. Mula-mula yang menggantikan tahtanya sebagai raja adalah Raden Martapura, pangeran yang lebih muda. Raden Martapura diangkat oleh Ki Mandaraka dan P. Purbaya.  Ia naik tahta karena ayahnya telah berjanji bahwa sepeninggalnya akan dinobatkan raja. Setelah upacara penobatan dan duduk di singgasana, Ki Adipati Mandaraka memberi bisikan pada sang raja untuk segera menyerahkan tahta pada kakaknya, Raden Rangsang. Tanpa mengulur waktu, raja meletakkan tahta dan mempersilakan sang kakak duduk di singgasana. Kemudian dilakukan penobatan raja baru, Raden Mas Rangsang dilantik sebagai raja Mataram dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646). Inilah babak kegemilangan kerajaan di pedalaman selatan Jawa tengah yang mampu menggaungkan namanya di seantero nusantara pasca Majapahit .

 

 

 

Kekuasaan Mataram

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram menerapkan konsolidasi baik infanteri maupun kavalerinya. Pun demikian dengan armada lautnya. Hutan jati dari Pati dan Blora menjadi sumber kekuatan Mataram dalam membangun armada lautnya. Sedangkan kekuatan pasar yaitu hasil komoditi beras dibangun di daerah-daerah pedalaman yang sangat subur.

Wilayah kekuasaan Mataram mencapai Jawa Barat (kecuali Banten), Jawa Tengah, Jawa Timur,  Sukadana (Kalimantan Selatan), Nusa Tenggara. Palembang dan Jambi pun menyatakan vasal kepada Mataram.

Rintangan terbesar yang dihadapi sultan adalah bercokolnya kekuatan Eropa pada waktu itu, yaitu VOC (kompani dagang Hindia Timur). Oleh karena itu, perhatian besar sultan adalah memusatkan strategi penyerbuan ke beteng Holandia di Batavia. Sultan memutuskan penyerbuan dilakukan tahun 1628. Maka dimulailah pembukaan jalan raya-jalan raya yang menghubungkan Mataram – Tegal – Cirebon – Batavia. Hutan semak belukar dibuka dengan kerja keras untuk dapat dilewati armada kavaleri maupun infanteri agar memudahkan pengangkutan logistiknya dengan gerobak-gerobak sapi. Sedangkan di wilayah Jawa bagian timur yang tidak terkena pengaruh Mataram, akses jalan raya tidak ada sama sekali. Perjalanan maupun perdagangan lebih banyak dilakukan melalui jalur sungai Berantas dan Bengawan Solo. Pekerjaan  pembukaan jalan raya yang menghubungkan Mataram-Batavia tersebut, sangat diacungi jempol oleh pemerintah Belanda. Mereka  menganggap mustahil pekerjaan tersebut dapat terlaksana. Dua abad kemudian pembukaan jalan raya baru diteruskan oleh gubernur jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), berupa  proyek jalan raya pos yang menghubungkan kota-kota Anyer  hingga Panarukan.

 

 

Karya masterpieces Sultan Agung

Sultan berhasil dalam menegakkan hegemoni Mataram melampaui ayah dan kakeknya. Bahkan  kelak dikemudian hari sangat sukar bagi para penerusnya mampu melakukan itu. Dan hanya Sultan Hamengku Buwana I lah (Raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat) kebesaran Mataram dapat menjelma kembali. Dalam bidang seni-sastra-ilmu pengetahuan, Sultan Agung telah menghimpun para cendekia untuk dikumpulkan di istana Mataram. Bersama-sama dengan raja, mereka berperan besar dalam menciptakan karya-karya sastra seperti Kitab Sastra Gendhing dan Kitab Niti Sastra yang hingga saat ini menjadi ilham para pemimpin dalam menyelenggarakan pemerintahan. Bahwa raja atau pemimpin ideal harus dapat menahan diri mencampuri administrasi wilayah sehari-hari yang sudah diurus para pejabatnya (yang sebagian besar otonom). Raja harus dapat memelihara agama dan kesejahteraan rakyatnya. Mereka juga harus mempunyai harta cukup untuk menjaga keagungannya yang kasat mata namun megah. Selain itu mampu menanggulangi pemberontakan yang terjadi di kerajaannya. Bahwa otoritas raja Mataram terletak pada keseimbangan antara legitimasi dengan otonomi lokal. Konon, mereka mendapat perlindungan khusus dari Ratu Kidul.

Dalam ranah seni busana, sultan mencipta kreasi ragam hias batik, seperti motif parang rusak yang ditetapkan sebagai motif larangan, khusus untuk raja dan kerabatnya. Dalam bidang seni tari, sultan membuat legitimasi tari pusaka yaitu Bedhaya Ketawang sebagai tari sakral karya cipta Ratu Kidul yang menceritakan reaktulaisasi pernikahan abadi sang ratu dengan raja-raja Mataram.

Di bidang arsitektur, sultan mendirikan komplek bangunan makam untuk penerusnya kelak. Makam yang didirikan di bukit Merak yang diberi nama Imogiri ini, mengadosi konsep punden berundak (konsep asli Jawa) dan ragam hias Islam yang diselesaikan tahun 1645. Tepat  setahun kemudian sultan dimakamkan sebagai raja pertama yang bersemayam Imogiri.

Sultan Agung juga dikenal piawai dalam ilmu pengetahuan. Bersama dengan para pujangganya, sultan mencipta kalender Jawa yang digunakan mulai 8 Juli 1633. Sistem penanggalan tersebut berdasar peredaran bulan yang memadu padankan perhitungan tahun Saka (Hindu) dengan tahun Hijriah (Islam).

 

 

KERUNTUHAN MATARAM

Sultan Agung tidak mempunyai pengganti yang mumpuni sepeninggalnya. Putra mahkota sangat bertolak belakang sifat dan kepribadiannya dengan sang ayah. Kegemarannya pada kehidupan keduniawian telah mendorongnya ke jurang kehancuran kerajaan. Maka dimulailah pemerintahannya sebagai raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat I (1646-1677).

Raja ini mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan para pendahulunya. Gaya pemerintahannya cenderung lalim, tidak suka bergaul (terasing) dan terlalu curiga dengan semua orang. Para pejabat di zaman pemerintahan ayahnya dihabisi dengan bengis, entah dengan hukuman cekik sampai mati untuk perkara-perkara yang sudah diatur (jebakan) atau dengan cara dikorbankan menjadi memimpin armada perang ke luar Mataram.

Hubungan antar kerabat pun tidak berjalan baik. Bahkan dengan putra mahkotanya, Sunan Amangkurat I terlibat bersaing dalam urusan wanita pilihan sebagai istri. Kejadian ini memunculkan tragedi berupa tewasnya mertua dan saudara-saudara raja. Karena putra mahkota didukung oleh kakeknya, P. Pekik (mertua Amangkurat I) untuk menikahi seorang gadis cantik bernama Rara Oyi, putri Ngabehi Mangunjaya dari tepi Kali Mas Surabaya.  P. Pekik berasal dari Surabaya terlibat membantu putra mahkota yang merupakan saingan sang raja dalam perebutan putri tersebut.

Kebengisan sunan dapat dilacak dari catatan pejabat Belanda maupun dalam babad Jawa.Banyak kejadian tidak masuk akal pada pemerintahannya. Pernah sang raja mengatur pembunuhan untuk adiknya, P. Alit. Karena  sang adik dihasut para pangeran di kerajaan untuk menuntut tahta. Bahkan raja pernah melakukan genocide terhadap lima ribu ulama.

Sifat bengis sunan ini telah menimbulkan sikap anti pati dan ketakutan rakyatnya. Oleh sebab itu ketika terjadi serbuan dari kelompok P. Trunajaya dari Madura, raja tidak mampu menangkisnya. Karena rakyat bersatu padu menyerang istana. Sunan Amangkurat I menyingkir hingga meninggal karena sakit dalam pelariannya di Wanayasa, Banyumas utara. Konon pula, untuk mempercepat kematiannya, putra mahkota yang kelak menjadi Amangkurat II memberi sebutir pil racun pada sang ayah. Amangkurat I dimakamkan di Tegalwangi, dekat dengan gurunya yaitu Tumenggung Danupaya.

Bagaimanapun buruknya Amangkurat I, beliau tetap mempunyai karya besar.  Dalam bidang arsitektur, sunan membuat istana baru di Plered (selatan Kuta Gede) dengan konsep pulau ditengah laut. Pembangunan istana Mataram tersebut dilandasi oleh sifatnya yang tidak mau kalah dengan keberhasilan sang ayah.

Untuk pekerjaan ini, sunan mengerahkan para penduduk hingga luar ibu kota agar membuat batu bata sebagai tembok kraton dan membendung sungai Opak menjadi danau besar. Utusan VOC, Rijklof van Goens mencatat bahwa ia sangat takjub dengan kraton Plered yang seolah-olah mengapung di lautan. Untuk mencapai alun-alun sebelum ke istana, orang harus melewati jembatan batang yang dibangun permanen.

 

Wafatnya Amangkurat I, membuat Putra mahkota mempunyai modal besar menggantikan tahta Mataram. Dengan  bekal pusaka-pusaka kerajaan, beliau berusaha mengusir gerakan Trunajaya dengan meminta dukungan VOC. Putra mahkota  naik tahta bergelar Sunan Amangkurat II (1677-1703).

Ibu kota Mataram dipindah, bergerak ke timur di Kartasura. Karena  P. Puger (adik Amangkurat II) tetap berdiam di istana Plered, setelah Amangkurat I wafat. Beliau berpendapat bahwa dirinya yang berhak atas tahta Mataram. Karena dirinya yang mendapat wahyu dari sang ayah (Amangkurat I) bukan putra mahkota (Amangkurat II). Kejadian tersebut ketika P. Puger menunggui ajal sang ayah. 

Namun akhirnya P. Puger mengakui kekuasaan Amangkurat II di Kartasura tahun 1680. setelah terjadi pertikaian alot. Meskipun pada masa-masa sesudahnya, P. Puger tetap membara semangatnya untuk mencapai tahta Mataram. Kelak akhirnya sang pangeran bertahta sebagai Sunan Paku Buwana I.

Pemerintahan Amangkurat II (1677-1703) di Kartasura dibangun dengan dukungan penuh VOC. Oleh karena itu, dirinya terikat dengan segala macam permintaan VOC. Di sisi lain, sang raja sangat melindungi para pejuang dalam melakukan perlawanan terhadap VOC, diantaranya adalah Untung Suropati.  Ia merupakan mantan perwira VOC yang akhirnya memusuhi resimennya karena tindakannya yang sewenang-wenang.

Ketika VOC meminta sang raja untuk menyambut Kapten Tack di Kartasura, muncullah ambivalensinya. Meskipun Kapten Tack ini sangat berjasa dengan berhasil membunuh P. Trunajaya di Kediri, namun karena sifatnya yang arogan di mata sang raja, maka Amangkurat II sangat membenci Kapten Tack. Apalagi kedatangannya ke kraton Mataram adalah untuk mengusir gerakan Untung Suropati.

Untuk menutupi sikap ambivalensinya, Amangkurat II menyambut baik kedatangan Kapten Tack di depan istana Kartasura. Namun, beliau telah mengatur siasat dengan pasukan Suropati untuk menyamar sebagai prajurit Mataram. Tiba-tiba terjadi  huru hara di saat Kapten Tack datang di istana yang menyebabkan dirinya terbunuh (Feb 1686). Sayang, tindakan sunan tersebut diketahui oleh sang adik, P. Puger. Kelak  beliau menunjukkan bukti-bukti kuat kepada VOC soal keterlibatan sang raja dalam peristiwa itu. Inilah senjata ampuh P. Puger dalam mendongkel tahta keturunan Sunan Amangkurat II.

Dalam kehidupan seni budaya,  dukungan kuat VOC telah  mempengaruhi Amangkurat II untuk  menerapkan etiket Eropa di dalam istana. Tata cara adat sembah untuk menghormat raja mulai diubah tidak dengan cara duduk bersila, melainkan dengan berdiri tegak lurus tangan dan kaki, topi diletakkan di lengan. Ini berlaku bagi orang-orang Eropa. Bahkan mereka diperkenankan duduk di bangku, bukan duduk bersila di lantai seperti layaknya pada pejabat Mataram. Inilah revolusi sosial yang mulai berlaku di istana Mataram.

 

Ketika Amangkurat II wafat, tahta Mataram masih diteruskan oleh putra mahkota bergelar Amangkurat III (1703-1708). Raja ini juga menggalang persahabatan dengan Untung Suropati, seperti ayahnya. Sementara itu, di istana terjadi konflik lama. Sang paman, P. Puger tetap ngotot menginginkan tahta. Dengan bukti-bukti kuat keterlibatan Amangkurat II dan III soal wafatnya Kapten Tack, maka P. Puger dinaikkan tahta sebagai raja Mataram oleh VOC, bergelar Sunan Paku Buwana I (1704-1719). Beliau bertahta di Semarang.

Amangkurat III diserang oleh VOC dan Sunan PB I. Beliau melarikan diri ke Jawa Timur, akhirnya dapat ditawan VOC (1708) kemudian diasingkan ke Sri Lanka. Sunan PB I kemudian bertahta di Kartasura. Masa-masa pemerintahannya dibayar mahal dengan menyerahkan daerah-daerah pesisir kepada VOC. Suatu kesalahan besar. Karena sumber pendapatan Mataram berkurang drastis. Ianilah yang memancing konflik intern berkepanjangan.

Kondisi kerajaan tidak pernah stabil. Para pangeran merasa bahwa pengaruh dan kebijakan VOC sangat menancap di Mataram. Terjadi beberapa pemberontakan yang dilakukan para pembesar kerajaan yang tidak puas dengan kondisi pemerintahan. Keadaan ini berlangsung terus bahkan hingga wafatnya Sunan PB I dan digantikan sang putra dengan gelar Sunan Amangkurat IV (1719-1726).

Catatan Belanda menunjukkan bahwa Amangkurat IV seperti seorang raja yang telah ditinggalkan rakyatnya. Kerajaan sangat rapuh, potensi perpecahan dan konflik  intern merebak.  Bahkan hingga wafatnya, sang raja pengganti (Sunan PB II) mewarisi kerapuhan tersebut.

Sunan PB II (1726-1749) memegang tampuk pemerintahan dalam usia muda belia, 16 tahun. Hal itulah yang membuat sang bunda, Ratu Amangkurat IV yang mendukung VOC melakukan intervensi pada pemerintahannya. Sementara itu patihnya, Danurejo sangat anti VOC.

Sebagaimana sang ayah yang mewarisi kondisi kerajaan tidak solid, Sunan PB II pun dirongrong oleh hutang-hutang yang harus dibayarkan kepada VOC. Bahkan kerajaan mengalami perang besar, yaitu pemberontakan orang-orang Cina yang semula terjadi di Batavia (1740) kemudian merembet hingga Kartasura. Perang yang dikenal sebagai Geger Pacina ini telah membuat sunan bersama gubernur pesisir van Hohendorff harus melarikan diri ke Jawa Timur karena istana Mataram diduduki kaum pemberontak.

Beruntung, VOC dapat menyusun kekuatan dan berhasil menduduki kembali Kartasura tahun 1742. Namun kondisi istana yang sudah poranda tidak layak sebagai ibukota kerajaan dan paham Jawa mengatakan bahwa istana yang sudah diduduki musuh, tidak lagi suci sebagai ibukota. Dengan dukungan VOC, Sunan PB II membangun istana baru. Desa Sala atau kemudian dikenal dengan Surakarta Hadiningrat terpilih dari 3 alternatif yang diajukan dan sunan  mulai mendiaminya pada 1745(1746). Arsitek pembangunan kraton adalah adik sunan, P. Mangkubumi (kelak bergelar Sultan HB I).

Harga mahal yang harus dibayar raja kepada VOC karena berhasil memadamkan perang pacina adalah kesepakatan bahwa VOC memperoleh daerah pesisir, yaitu Madura, Sumenep dan Pamekasan. Selain itu, VOC lah yang menentukan pejabat patih Mataram serta penguasa pesisir.

Akibat jatuhnya pesisir ke tangan VOC, para pejabat Mataram geram. Bermunculan para pemberontak yang merongrong istana Surakarta Hadiningrat. Diantaranya yang terkenal adalah pasukan Raden Mas Said (1746), keponakan raja. Untuk memadamkan pemberontakan itu, sunan mengadakan sayembara berupa pemberian tanah Sokawati bagi yang berhasil memadamkannya. Maka tampillah adik raja, P. Mangkubumi. Dengan kemampuannya mengatur strategi perang dan penguasaan medan yang jitu, akhirnya gerakan Mas Said dapat ditumpas. Namun sunan mengampuni keponakannya itu.

Masalah timbul, ketika dalam pertemuan agung kerajaan, langkah sunan hendak menyerahkan hadiah tanah Sokawati kepada P. Mangkubumi dihalangi oleh patihnya, Pringgalaya dan gubernur van Imhoff. Menurut gubernur VOC tersebut, Mangkubumi tidak layak mendapat hadiah 4000 cacah.  Seakan-akan hendak menandingi kekuasaan raja.

P. Mangkubumi kecewa, dipermalukan dihadapan umum oleh van Imhoff. Maka 19 Mei 1746, beliau berontak pada VOC , keluar dari Surakarta, lalu mendiami Sokawati dengan kekuatan 2500 kavaleri (pasukan berkuda) serta 13000 anak buah dan punggawa yang mendukungnya. Beliau melancarkan serangan kepada VOC di Grobogan, Juana, Demak, Jipang (Bojonegoro). Pasukannya bertambah kuat dengan bergabungnya RM. Said, sang keponakan yang sempat ditundukkannya. Persatuan paman dan keponakan ini bahkan hampir menguasai istana Surakarta (1748).

Kondisi kerajaan yang tidak stabil membuat Sunan PB II jatuh sakit. Seakan sudah pasrah dengan kerajaannya yang tidak solid, beliau menyerahkan Mataram kepada gubernur Baron von Hohendorff (11 Desember 1749). Inilah kesalahan terbesar yang dilakukan raja. Keputusan tersebut menyulut P. Mangkubumi untuk bergerak, agar dapat menarik kembali kerajaan tetap dalam pangkuan dinasti Mataram. Beliau mengangkat dirinya sebagai Sunan Pakubuwana di desa Bering, Yogyakarta (12 des 1749). Tindakan ini sebagai langkah mendahului keponakannya (putra mahkota PB II yang baru 16 tahun), yang akan dinaikkan tahta oleh VOC sebagai Sunan PB III.

Inilah babak baru periode kerajaan Mataram terbagi dua.          P. Mangkubumi sebagai raja didampingi RM. Said sebagai patihnya. Kedua tokoh ini merupakan dwi tunggal kekuatan yang sulit ditembus VOC maupun Surakarta Hadiningrat dibawah PB III. Sayang persekutuan sultan dan patihnya yang juga merupakan menantu, akhirnya pecah di tahun 1753 akibat benturan konflik pribadi soal tahta Mataram yang masih dipegang Sunan PB III.

VOC yang sudah lelah dengan panjangnya peperangan, mulai menempuh jalur perundingan. Bahkan RM. Said pernah menulis surat ke VOC bersedia berunding dengan syarat diangkat sebagai sunan. Rupanya VOC tidak mengindahkannya, namun melirik pada P. Mangkubumi. VOC mendekatinya bahkan mengganti pejabatnya yang tidak disukai P. Mangkubumi dalam upaya perundingan, yaitu van Hohendorff. VOC menggantikannya dengan Nicolaas Hartingh. Seorang Belanda yang sangat mengerti tata krama Jawa, pribadi yang lebih disukai P. Mangkubumi. Dalam hal ini Hohendorff sadar diri,  ia tidak akan bisa kontak dengan Mangkubumi dan hal tersebut sangat merugikan VOC. Selain itu, citranya sudah buruk di Surakarta. Oleh karena itu pengunduran diri Hohendorff merupakan langkah maju bagi VOC guna membuka perundingan dengan P. Mangkubumi.

Kesepakatan tercapai melalui Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755). Menyatakan  Mataram dibagi dua. Sunan PB III tetap bertahta di Surakarta Hadiningrat dengan kekuasaan meliputi : Ponorogo, Kediri, Banyumas. P. Mangkubumi bertahta di desa Bering yang lebih dikenal dengan Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan wilayah meliputi Grobogan, Kertasana, Jipang, Japan, Madiun. Sementara Pacitan dibagi untuk keduanya, termasuk Kotagede dan makam Kerajaan Imogiri.

 

Sunan PB III yang tidak diikutkan dalam perundingan tersebut tidak dapat berbuat banyak, hanya bisa menerimanya. Sementara itu, RM. Said semakin kecewa karena tidak mendapatkan kekuasaan. Oleh karena itu dirinya semakin gencar melakukan perlawanan baik kepada Sultan HB I, Sunan PB III, dan VOC.

Merasa tidak mampu menanganinya, VOC pun menawarkan jalan damai, melalui perundingan Salatiga (1757). Dalam perundingan tersebut Mas Said menyatakan kesetiaannya pada raja Surakarta Hadiningrat dan VOC.

Sunan PB III memberikan tanah 4000 cacah dengan wilayah meliputi Nglaroh, Karanganyar, Wonogiri. Sementara, Sultan HB I tidak memberikan apa-apa. Kemudian RM. Said dinobatkan sebagai adipati Mangkunegara I. Kerajaannya  bernama Mangkunegaran.

          Demikianlah kerajaan Mataram resmi terbagi dalam 3 kekuasaan yang diperintah Sunan PB III, Sultan HB I, dan Mangkunegara I. Konflik antar pangeran mulai mereda, keamanan relatif stabil. Namun dalam kedua perundingan yang telah disepakati tersebut tidak dicantumkan hal pengganti tahta. Oleh karena itu masih terbuka peluang untuk menyatukan tahta Mataram. MN I berharap akan tahta Surakarta. Oleh karena itu, putranya (Prabu Widjojo) dinikahkan dengan putri PB III, GKR Alit. Meskipun dari perkawinan tersebut lahir seorang putra, Namun harapan MN I pupus, karena PB III kemudian mempunyai putra mahkota. Kelak  putra Ratu Alit dan Prabu Widjojo bertahta sebagai MN II.

Demikian pula upaya Mas Said menikah dengan GKR Bendara, putri sulung HB I. Sayang  sang putri menceraikannya (1763) yang kemudian menikah dengan P. Diponegara (dari Yogyakarta). Oleh karena itu, terputuslah harapan Mangkunegara untuk merajut tahta Mataram dalam satu kekuasaan tunggal. Bagaimanapun juga penyatuan Mataram akan merumitkan VOC karena sukar mengendalikan satu kekuatan besar di Jawa. Dengan terbagi-baginya kerajaan, maka akan mudah bagi VOC menancapkan hegemoni dan superiornya di Tanah Jawa.

 

...........................bersambung