koleksi > KOLEKSI NARASI

Mahakarya koleksi lukisan di Museum Ullen Sentalu bukanlah bentuk karya lukis yang dipamerkan untuk mengapresiasi pelukisnya tapi lebih pada isi (content) lukisannya yang digunakan sebagai medium komunikasi dari yang intangible menjadi tangible, sebagaimana diatur dalam kode etik ICOM sebagai Working Collection. Dalam pengungkapannya tidak pernah tercantum label atau keterangan, tapi hanya lewat penuturan pemandu yang akan memberi keterangan secara naratif dan interaktif dibandingkan keterangan melalui label teks atau caption. Makna yang disampaikan secara verbal seringkali lebih utuh dibandingkan non verbal yang dapat terdistorsi oleh interpretasi pembaca. Bentuk karya lukis seperti itu disebut Conceptual and Imaginary Narrative Painting atau disingkat Narrative Painting dan tercipta berdasarkan buah pikir lewat tulisan, penuturan atau pengalaman melihat langsung suatu kejadian yang kemudian diungkapkan dalam bentuk lukisan. Proses demikian merupakan ‘imaginative reconstruction’ and ‘reaffirming memory and history in tangible form’ dengan urutan yang sempurna (Lowenthal, 1985: 4, 191). Berbeda dengan Contextual Painting yang hampir semuanya mengandalkan dari yang dilihat tanpa interpretasi rumit, Narrative Painting tak ubahnya seperti rangkaian snapshot atau motion picture untuk menuangkan intangible happening atas peristiwa masa lalu yang belum didokumentasikan atau peristiwa masa kini yang dituturkan atau ditulis oleh pelaku atau saksi sejarah dengan melibatkan team work yang terdiri dari kaum akademisi yang melakukan riset lapangan dan literatur, pakar sejarah dan kebudayaan, juru tafsir bahasa dan simbol, para perupa yang ahli dalam gaya lukisan realism dan surrealism, untuk secara bersama-sama merangkai berbagai penggalan kisah atau benda tinggalan dalam bentuk lukisan. Conceptual idea tersebut selanjutnya diintepretasikan secara imaginatif dan naratif untuk menampilkan nilai estetika dan aspek komunikatif. Contohnya adalah upacara Jumenengan yang merupakan perayaan tahunan memperingati raja bertahta yang hanya dapat dihadiri atau disaksikan oleh kerabat kraton dan tamu undangan tertentu. Melalui lukisan naratif, kemegahan dan keindahan tata upacara kraton beserta kaidah filosofis yang terkandung didalamnya dapat diungkapkan untuk masyarakat umum, sebagaimana diungkapkan oleh pakar kebudayaan visual: ‘Paintings are more removed from the actual event than are photographs. They are better at evoking memories than photographs would be ‘ (Mitzal, 2007: 401). Beragam lukisan naratif dengan berbagai tema dan kisahnya merupakan koleksi tetap Museum Ullen Sentalu.

 

koleksi > KOLEKSI TETAP

Museum Ullen Sentalu sebagai lembaga yang memiliki visi dan misi pelestari budaya Jawa adiluhung memiliki beberapa koleksi lukisan diantaranya sebagai berikut

1.Lukisan Serimpi Sari Tunggal
Lukisan ini menggambarkan sosok GRAj Nurul Kusumawardhani putri Mangkunagaran VII yang sedang menari Serimpi Sari Tunggal pada resepsi pernikahan Putri Juliana di Belanda pada 1937 di istana Noordeinde, Belanda

2.Lukisan Menak Cina dan Rengganis : Sang Pemenang
Sosok yang diabadikan di lukisan Renganis Si Pemenang adalah RAy Nurul Maliki, putri Pangeran Suryobrongto yang merupakan putra HB 8.
Menceritakan tokoh Rengganis dan Widaninggar(putri China), dua karakter yang saling bermusuhan untuk berperang membela saudara seperguruan masing-masing.Putri Rengganis membela Dewi Kelaswara, istri pangeran Jayengrana.Widaninggar membela Dewi Adaninggar yang mati terbunuh oleh Kelaswara ketika berperang memperebutkan cinta Jayengrana.Pertarungan dimenangkan oleh Dewi Rengganis.

3.Lukisan Topeng Panji Klana
Menceritakan tentang Roman Panji yaitu kisah cinta antara Dewi Candrakirana dan Raden Panji.

4.Lukisan Serimpi Pandelori
Lukisan ini terinspirasi dari sebuah tarian yang merupakan petikan cerita Menak tentang peperangan Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupelaeli

5.Lukisan Ibu Ageng:The Royal Melody
Mengambarkan sosok Ibu Ageng atau RAy Koes Pariyah yang merupakan cicit dari PB IX dan menjadi permaisuri GKR PB XI.

6.Lukisan Wewarah:Ibu Ageng dan Ratu Alit
Lukisan ini menghadirkan 2 sosok wanita yang berperan dalam kehidupan tahta PB XII yaitu GKR PB XI (Ibunda) dan GKR Alit(putri sulung). Dua sosok dengan dua karakter yang sangat berbeda. Yang satu adalah seorang permaisuri, ibu suri, dan sosok nenek yang memiliki kepribadian dan karakter sangat kuat dan dominan. Sebaliknya, sosok sang cucu GKR Alit terlihat berkepribadian sangat lembut dan patuh melakoni tata cara kehidupan seorang putri ningrat di dalam kaputren. Digambarkan di dalam lukisan, beliau berdiri mengawasi cucu perempuan, GKR Alit bermain piano yang diwajibkan.

7.Lukisan Tumbuk Yuswa Paku Alam VIII
Terinspirasi dari upacara tumbuk yuswa Paku Alam VIII yaitu hari kelahiran adipati yang diselengarakan di pendapa agung. Serombongan para putri Pakualaman membawa pusaka sebagai simbol kebesaran raja.Setiap Pusaka memiliki makna filosofisnya Bulu merak melambangkan keindahan, gada adalah simbol kedudukan, perisai dimaknai sebagi lambang keamanan. Tempat air ludah atau kecohan merupakan terjemahan dari "sabda pandita ratu" yang berarti setiap sabda raja tidak akan ditarik kembali dan raja selalu menepati janji yang diucapkan, kotak perhiasan sebagai lambang kemakmuran, dan pedang menyimbolkan ketajaman berpikir.Raja sebagai pengayom: para putri kerabat raja(anak-cucu-garwa ampil-bibi-eyang, dsb kerabat puri) duduk di belakang raja, simbol raja mengayomi mereka.

8.Lukisan Prameswari
Lukisan ini menggambarkan sosok GKR Kencana yaitu permaisuri HB VII. Dari beliau terlahir 2 orang putri; GRAj Mursudarinah yang dipersunting PB X dan GRAj Mursudariyah menjadi permaisuri Adipati MN VII.

9.Lukisan Pasareyan Raja-raja
Lukisan yang menggambarkan para putri PB XII dari ibu berbeda:GKR Alit, Gusti Mung, Gusti Diah, Gusti Mening saat memperingatil 40 hari meninggal saudarinya yang dikenal dengan panggilan Gusti Pluk.

10.Lukisan Putri Dalem dan Biyung Mban
Lukisan ini menggambarkan beberapa abdi dalem yang mendampingi Putri Yanna,cucu PB XII dalam suatu acara formal kraton. Kostum para abdi dalem adalah setelan kain kemben tanpa mengenakan perhiasan. Samir yang dikalungkan merupakan simbol penugasan dari raja dan dipercaya sebagai penolak bala.

11.Lukisan Darah Biru
Sosok dalam lukisan adalah GKR Timur dan Gusti Nurul. Sebagai permaisuri, GKR Timur selalu tampil dalam setelan kain panjang dan kebaya lengkap dengan gaya rambut dan perhiasan layaknya seorang wanita bangsawan. Sedangkan putri raja sebelum akil balik mengenakan kostum yang disebut sabuk wala

12.Lukisan Putri Mangkunegaran dan Turangga
Lukisan ini menceritakan Gusti Nurul dengan latar belakang kuda. Beliau memang menggemari olahraga menunggang kuda.

13.Lukisan Royal Blue: Garwa Kinasih dan Ratu Mas:Merak Ati
Sosok didalam lukisan ini adalah Ratu Mas yang anggun.

koleksi > GALERI
copyright © 2017 museum ullen sentalu