tentang kami > SEKILAS PANDANG

Sekilas pandang

Menapakkan kaki di kawasan Museum Ullen Sentalu terasa balutan hawa sejuk (15-25° Celcius) dan suasana hening yang menyatu dengan alam pegunungan disekitranya yang sekaligus memberikan rasa damai serta khidmat. Area seluas 1,2 hektar yang dikembangkan secara bertahap tersebut bernama nDalem Kaswargan atau Rumah Surga, dimana Museum Ullen Sentalu berada. Jalan masuk menuju ruang pamer museum maupun artshop dan restoran  berupa kelokan, undakan, serta labirin akan memberikan nuansa nostalgia, perenungan dan keindahan. Beberapa bagian bangunan dan unsur yang melengkapinya, seperti gapura, dinding tembok, taman, kolam, mencerminkan keagungan budaya leluhur yang sudah ada sejak masa silam. Berbagai jenis unsur bangunan Jawa terlihat pada layout dan struktur bangunan bergaya Indis dan post-mo yang bersatu-padu menciptakan harmoni secara menakjubkan. Koleksi berupa lukisan dan foto foto tokoh sejarah budaya Mataram Islam, kain batik vorstenlanden, karya sastra,  arca arca kebudayaan Hindu Buddha, dan koleksi etnografi era Mataram Islam. Itu membingkai kisah sosial ekonomi politik seni sejarah dan budaya Jawa, terutama kisah para putri di kraton Mataram yang tidak banyak dikisahkan kepada masyarakat awam.

tentang kami > SEJARAH

Sejarah

Seribu enam ratus atau bahkan lebih dari dua ribu tahun. Selama itulah rentang waktu yang telah membentuk budaya Jawa yang eksis dan kita kenal hingga sekarang. Evolusinya melalui berbagai zaman : Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, juga Mataram beserta empat cabang sempalannya, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Hasil proses peradaban berusia panjang itu pun tak kurang jumlahnya yang bermutu sangat tinggi. Sebut saja dalam hal ini kitab kitab kuno yang berisikan mitologi, epos, sejarah, ketatanegaraan, pengetahuan dan petuah-petuah berfaedah, hingga ramalan : Bharatayudha, Negarakertagama, Pararaton, Babad Tanah Jawi, Serat Centhini, Serat Wedhatama,dan Serat Kalathida. Di samping itu ada pula sejumlah adikarya berupa bangunan bangunan berarsitektur megah serta kaya ornamen elok: Candi Borobudur, Percandian Prambanan, Candi Sewu, Candi Penataran, Pasareyan Raja-raja Mataram di Imogiri, juga Istana Air Taman Sari. Patut disyukuri bahwa banyak dari warisan budaya yang bersifat tangible (bendawi) tersebut sejauh ini terkonservasi dengan cukup baik.

Namun, selain warisan budaya yang bersifat tangible ada pula warisan budaya yang bersifat intangible. Warisan budaya intangible mencakup keseluruhan ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, dan ketrampilan. Datangnya era globalisasi yang tak terelakkan serta banjir budaya pop yang dibawanya mendatangkan ancaman bagi warisan budaya Jawa yang bersifat intangible. Menjadi pudar dan terabaikan adalah awalnya. Selanjutnya, jika tiada perhatian serta tindakan nyata, bukan tak mungkin itu akan memusnahkan warisan budaya intangible, membuatnya terlupakan sama sekali.

Keprihatinan atas hal semacam itu, berpadu dengan pemikiran bahwa kebanggaan dan martabat suatu bangsa, termasuk kebanggaan atas segenap hasil proses peradaban dan budayanya, tidaklah dapat dipisahkan dengan adanya kehendak kuat untuk menjaga kesinambungannya, lantas memantik inspirasi para pendiri Museum Ullen Sentalu. Mereka lantas bertekad untuk mampu menjelmakan warisan budaya intangible dalam wujud karya karya seni. Harapannya, itu akan mampu menjadi jendela peradaban seni dan budaya Jawa, sekaligus jembatan komunikasi bagi generasi masa kini.

tentang kami > SAMBUTAN
Pengunjung Museum yang terhormat,
 
Selamat datang di Museum Ullen Sentalu yang terletak di kaki triangulasi gunung Turgo, Merapi dan Plawangan. Museum yang memadukan keindahan alam pegunungan dan kebesaran kebudayaan Jawa. Kunjungan Anda akan terbagi menjadi dua: Tur Dipandu (Guided Tour) yang akan ditemani oleh Kurator dan Tur Bebas (Free Tour) yang Anda lakukan sendiri. Pembagian ini dimaksudkan untuk menjamin aspek pendidikan (educational/ learning) dalam kunjungan Anda dan tidak hanya sekedar tamasya (entertainment/ leisure). Melalui Kurator, Anda juga dapat bertanya langsung yang akan lebih lengkap dibandingkan interaksi lewat touch-stone screen atau keterangan pada caption/ label museum.
Perlu dipahami bahwa sebagian besar koleksi kami adalah warisan budaya tak-benda (intangible heritage) yang diabadikan dalam bentuk lukisan naratif, sehingga tidak dapat didokumentasikan oleh pengunjung sebagaima lukisan portrait pada umumnya.
Keindahan alam pegunungan Kaliurang yang berhawa sejuk tidak hanya menampilkan keindahan flora dan fauna yang beragam tapi juga menyimpan nilai filosofis yang membentang mulai dari Mataram Kuno hingga Mataram Kini.
Rute Andesit yang membentang dari Candi Borobudur di Barat dan kompleks Candi Prambanan di Timur lewat jalan desa Pondoh dan Turi merupakan warisan budaya Mataram Kuno yang terkenal dengan bangunan Candi berbahan batu gunung (batu andesit). Sedangkan posisi di kaki Gunung Merapi yang merupakan ujung Utara dari poros imajiner makro-kosmologi Mataram Kini yang membentang hingga Laut Selatan di ujung Selatan.  
Selamat menikmati waktu Anda dalam menelusuri kisah peradaban Mataram yang  adiluhung ditengah balutan udara pegunungan yang sejuk
 
Salam hormat
 
KRHT Daniel Haryodiningrat B.A., M.Hum
Direktur Museum Ullen Sentalu
tentang kami > VORSTENLANDEN

Vorstenlanden

Vorstenlanden merupakan istilah yang sering muncul dalam artikel atau buku yang membahas tentang sejarah Jawa, kususnya sejarah Jawa pada kurun medio abad XVIII sampai dengan pertengahan awal abad XX. Pada kurun tersebut, istilah Vorstenlanden sering digunakan untuk menyebut daerah atau kawasan yang berada di bawah otoritas empat monarki Jawa pecahan Dinasti Mataram Islam, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Beberapa kawasan yang tersebar diberbagai daerah yang termasuk dalam Vorstenlanden itu terletak di daerah pedalaman Jawa dan bukan di di daerah pesisir atau tepian pulau Jawa. Awalnya, Vorstenlanden membentang di sepanjang sisi selatan mulai dari sekitar Gunung Slamet di Jawa Tengah sampai dengan sekitar Gunung Kelud di Jawa Timur. Kondisi demikian  berlangsung  75 tahun, yakni antara 1755 sampai dengan 1830.

Sejak 1830, sebagai dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda pasca Perang Jawa/ Perang Diponegoro (1825-1830), luas wilayah yang termasuk Vorstenlanden menciut secara drastis. Sejak tahun tersebut, Vorstenlanden tinggal meliputi beberapa daerah yang kini dikenal sebagai eks Karesidenan Surakarta dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa wilayah selebihnya, yang semula lazim dikenal sebagai daerah Mancanagara, yakni Banyumas, Bagelen, Kedu, Madiun, Kediri, Caruban, Jipang/Bojonegoro, Japan/Mojokerto, Nganjuk, dan Ponorogo diambil alih penguasaannya secara langsung oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Ketika Hindia Belanda akhirnya runtuh pada 1942, penguasaan langsung atas daerah-daerah bekas Mancanagara Surakarta dan Yogyakarta diteruskan oleh otoritas pengganti Pemerintah Hindia Belanda, yakni oleh Pemerintah Pendudukan Jepang dan selanjutnya Pemerintah Republik Indonesia saat ini.

Bahkan, sejak 1946, tinggal Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman saja daerah Vorstenlanden yang terbilang masih memiliki otonomi untuk menjalankan pemerintahannya sendiri. Itu pun keduanya bertranformasi dalam bentuk Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan satu dari 34 provinsi dalam Republik Indonesia. Sultan Kraton Yogya dan Adipati Puro Pakualam menikmati sisa-sisa hak istimewanya sebagai penguasa Jawa dengan mengemban jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, keduanya  sejak 1946  dapat dikatakan benar-benar kehilangan otonomi bidang pemerintahan atas daerah-daerah yang antara 1830-1946 di bawah kekuasaan mereka. Sejak sekitar setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dua pecahan Dinasti Mataram Islam tersebut mesti merelakan seluruh wilayahnya diambil alih Pemerintah Republik Indonesia. Bekas wilayah Kasunanan dan Mangkunegaran kemudian dijadikan bagian dari Provinsi Jawa Tengah. Kini, gabungan wilayah dari dua pecahan Dinasti Mataram Islam itulah yang lazim dikenal sebagai wilayah Eks Karesidenan Surakarta.

Berawal dari Bovenlanden. Tentang kapan tepatnya otoritas Kolonial Belanda di Jawa mengadopsi istilah Vorstenlanden, penjelasan dari Dosen sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr Sri Margana, dapat memberikan gambaran.

“Awalnya ketika Mataram belum terpecah, hanya ada satu raja, istilahnya yang dipakai dulu (oleh Belanda) adalah Bovenlanden,” kata Dr Sri Margana ketika diwawancara oleh Tim Riset dan Dokumentasi Museum Ullen Sentalu pada 20 Juni 2014, “Ketika kemudian terpecah menjadi empat, mereka (Belanda) lalu menyebutnya Vorstenlanden .“

Lebih lanjut dijelaskan oleh Dr Sri Margana, vorsten pada Vorstelanden dalam bahasa Belanda berarti raja-raja atau penguasa-penguasa. Dengan demikian Vorstenlanden berarti tanah raja-raja. Katanya lagi, penggunaan istilah Vorstenlanden cocok dengan aturan hukum kolonial yang diberlakukan Belanda pada masa itu, yakni raja-raja penguasa lokal keturunan Dinas Mataram Islam di daerah Vorstenlanden memang menyandang status semi-otonom, boleh mengontrol wilayah mereka.

 Lebih lanjut diterangkan oleh Doktor Sejarah lulusan Universitas Leiden itu, penggunaan istilah Vorstenlanden sebenarnya telah sering dipakai dalam aktivitas surat menyurat antar pejabat Belanda sejak setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti 1755. Kebiasaan ini kemudian menjadi formal setelah pembentukan negara kolonial pada 1800, antara lain ditandai dengan penggunaan istilah Vostenlanden dalam berbagai dokumen dan peraturan resmi seperti Staatblad  yang dikeluarkan Pemerintah Kolonial, juga dalam Rijkblaad yang dikeluarkan raja-raja penguasa lokal keturunan Dinasti Mataram Islam. Penggunaan istilah Vorstenlanden sekaligus untuk membedakan dengan tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh pihak otoritas Belanda, yang disebut Gouvernementlanden.

Tembakau dan Batik

Sekitar tiga perempat abad terakhir, istilah Vorstenlanden tak banyak lagi terdengar dalam keseharian. Boleh jadi, menghilangnya istilah Vorstenlanden telah terjadi ketika Jepang menggusur Belanda dari Nusantara pada 1942. Jadi, istilah Vorstenlanden bernasib  sama dengan sejumlah penyebutan daerah dalam bahasa Belanda yang setelah Jepang berkuasa di Indonesia pada 1942-1945, berlanjut dengan merdekanya Indonesia sejak 1945, kemudian diganti dengan istilah dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana Batavia yang diganti Jakarta, Buitenzorg diganti Bogor, dan Fort de Cock diganti Bukittinggi.

Meskipun demikian, istilah Vorstenlanden tidak pula lenyap seluruhnya. Istilah tersebut sampai kini masih melekat pada jenis tembakau berkualitas tinggi yang dibudi-dayakan di sekitar Kabupaten Klaten. Istilah Vorstenlanden juga dipakai untuk menyebut kain-kain batik gaya Surakarta dan Yogyakarta yang cenderung memiliki warna dasar soga hingga putih, serta terkesan memiliki motif-motif klasik. Penggunaan istilah demikian untuk beragam batik asal Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai pembeda dengan bermacam batik asal Pesisir Utara yang umumnya lebih berwarna-warni. Dalam hal penggunaan istilah Vorstenlanden pada budi daya tembakau dan produksi batik, secara umum memiliki konotasi positif, tak selalu diingat dan dikaitkan dengan eksistensi kolonial. Hal demikian tampaknya adalah cerminan citra klasik dan pesona peradaban Barat/Eropa  yang memang masih melekat pada penggunaan istilah Vorstenlanden. 

tentang kami > VISI DAN MISI

Museum Ullen Sentalu didirikan oleh keluarga Haryono yang mewarisi kebudayaan Jawa secara turun-temurun dari keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya. Museum Ullen Sentalu, sesuai dengan makna semantiknya memiliki makna nyala blencong yang menerangi. Museum Ullen Sentalu merupakan sebuah konsep dari misi pelestarian nilai dan martabat budaya Jawa. Merupakan suatu komunikator dari suatu kekayaan warisan tangible dan khususnya intangible, sehingga terjadi pertemuan antara pewaris dan warisan budaya.

 

Visi

Museum merupakan 'dreamspace' yang mampu mengakomodasi kenangan, emosi, perasaan, khayal dan menghubungkannya dengan faktor sejarah kemudian menuangkannya dalam sebuah lukisan yang merupakan diorama dwimatra dalam sebuah eksibisi. Lukisan, telah terbukti, merupakan medium yang lebih efektif untuk menghidupkan memori, karena diatas canvas dapat dituangkan semua daya kognitif yang dimiliki manusia, baik daya ingat, daya khayal, daya interpretasi, daya cipta dan lainnya. Sebagaimana dikatakan oleh Eco (2009 : 40) lewat Tamasya dalam Hiperrealitas bahwa otensitas yang ditawarkan bukan historical lagi tapi visual. Segala sesuatunya tampak nyata, karena ia nyata, seperti halnya Alice in Wonderland yang tidak pernah ada, tapi tampak begitu nyata. Jadi yang terpenting dalam Museum Baru bukan sekedar keesotikan benda yang dipamerkan, sebagaimana yang terjadi pada era wunderkammer dan cabinet of curiosity, tapi makna yang terkandung didalamnya dan bukan sekedar makna yang dijabarkan seperti pada periode object oriented tapi makna yang bermanfaat bagi masyarakat pada people oriented. Dalam perkembangan terakhir, bukan lagi sekedar manfaat yang harus dibaca ulang berdasarkan artefaktual tapi manfaat yang disajikan secara thematic dan informatif  yang bersifat menghibur dan mendidik serta memberi kenyamanan dan kemudahan dalam mendapatkannya.

Museum seni dan budaya Jawa Ullen Sentalu yang terletak di Kaliurang, Yogyakarta telah membuktikannya, bahwa penerapan Museologi Baru berdasarkan informasi jauh lebih dibutuhkan oleh masyarakat sekarang dibandingkan masa-masa sebelumnya. Pendapat senada yang mendukung kenyataan ini dikemukakan oleh para musolog dalam Corsane (2005: 41 - 48):

  • Museums had begun to realize that they must present ideas amd not just collection (Anonim dalam Corsane 41)
  • Rationale for new museology was social subjects and concerns replaced objects as its focus (Stevenson, 1987, Weil, 1990 dalam Corsane: 43)
  • Museums fundamentally (and finally) are to be about ideas and not objects (Weil, 1990 dalam Corsane 48).

Demikian pula yang dikemukakan oleh Hooper – Greenhill (2000: 152): The great collecting phase of museum is over…the post-museum will be equally interested in intangible heritage. Where the tangible material objects of a cultural group have largely been destroyed, it is the memories, songs and cultural traditions that embody that culture’s past and future

 

Misi

Bentuk museum berbasis pada intangible heritage dan berorientasi pada informasi seperti itulah yang dimaksudkan Hooper – Greenhill (2000) sebagai post – museum dan oleh Magetsari (2009) diidentifikasikan sebagai critical museology. Mungkin masih membutuhkan satu atau dua periode lagi hingga nantinya bukan lagi sekedar informasi biasa yang dibutuhkan oleh masyarakat tapi information super-highway yang bisa diakses kapan saja lewat portal museum virtual. Bila hal itu terjadi, bukan berarti tidak ada lagi pengunjung museum fisik, karena kunjungan seperti itu akan tetap ada bahkan akan sama besarnya dengan pengunjung museum maya, karena kemajuan tehnologi tidak hanya merambah bidang komunikasi tapi juga transportasi, sehingga bepergian kemanapun akan sama cepatnya dan nyaman seperti pesiar ke dunia maya. 

copyright © 2017 museum ullen sentalu